Tugas Pembatik level 3
Tampilkan postingan dengan label materi pelajaran biologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label materi pelajaran biologi. Tampilkan semua postingan
RINGKASAN :POLA-POLA HEREDITAS
RINGKASAN MATERI POLA-POLA HEREDITAS
1.
Pewarisan Sifat
a.
Genetika adalah ilmu
mengenai pewarisan sifat-sifat induk pada turunannya.
2.
Istilah dalam Pewarisan Sifat
a.
Parental: induk atau orang
tua atau tetua. Parental disingkat P.
b.
Filial: keturunan yang
diperoleh sebagai hasil dari perkawinan parental. Keturunan pertama disingkat F1,
keturunan kedua disingkat F2, keturunan ketiga disingkat F3,
dan seterusnya.
c.
Dominan: sifat yang muncul
pada keturunan, yang artinya dalam suatu perkawinan sifat ini dapat mengalahkan
sifat pasangannya.
Gen
dominan: gen yang dapat mengalahkan atau menutupi
gen lain yang merupakan pasangan alelnya dan memakai simbol huruf besar.
d.
Resesif: sifat yang muncul
pada keturunan, yang artinya dalam suatu perkawinan sifat ini dapat dikalahkan
oleh sifat pasangannya.
Gen
resesif: gen yang dikalahkan atau ditutupi oleh gen
lain yang merupakan pasangan alelnya dan memakai simbol huruf kecil.
e.
Genotip: susunan genetik suatu
sifat yang dikandung suatu individu yang menyebabkan munculnya sifat-sifat pada
fenotip.
f.
Fenotip: sifat lahiriah
yang merupakan bentuk luar yang dapat dilihat atau diamati.
g.
Alel: anggota pasangan gen
yang mempunyai sifat alternatif sesamanya. Gen-gen ini terletak pada lokus yang
bersesuaian dari suatu kromosom yang homolog.
h.
Homozigot: pasangan alel
dengan gen yang sama, keduanya gen dominan atau resesif.
i.
Heterozigot: pasangan alel
dengan gen yang tidak sama, yang satu gen dominan dan lainnya gen resesif.
j.
Pembastaran: perkawinan
antara dua individu yang mempunyai sifat beda.
3.
Hukum Mendel
a.
Hukum Mendel I (Hukum Segregasi), menyatakan bahwa ketika berlangsung pembentukan gamet pada
individu, akan terjadi pemisahan alel secara bebas. Persilangan monohibrid
membuktikan hukum Mendel I. Persilangan monohibrid merupakan persilangan dengan
satu sifat beda. Untuk mengetahui keadaan genotip F1 dapat
dilaksanakan:
1)
testcross (uji
silang): mengawinkan individu hasil
hibrida (F1) dengan salah satu induknya yang homozigot resesif.
Tujuan uji silang ini untuk mengetahui keadaan genotip suatu individu, apakah
homozigot atau heterozigot.
2)
backcross (silang balik):
mengawinkan individu hasil hibrida (F1) dengan salah satu induk, baik
induk homozigot dominan ataupun resesif.
Tujuan backcross adalah untuk
mengetahui genotip induknya.
Intermediet: penyilangan dengan satu
sifat beda, namun sifat dominan tidak mampu menutupi sifat resesif sehingga
muncul sifat diantara keduanya.
b.
Hukum Mendel II,
menyatakan bahwa pada saat penentuan gamet, gen-gen sealel akan memisah secara
bebas dan mengelompok secara bebas pula. Persilangan dihibrid merupakan bukti
berlakunya hukum Mendel II. Mendel melanjutkan persilangan, dengan menyilangkan
tanaman yang memiliki dua sifat beda (dihibrid), yaitu warna dan bentuk kacang
ercis. Dia menyilangkan kacang ercis biji bulat (B) warna kuning (K) dengan kacang
ercis biji kisut (b) warna hijau (k). Hasilnya F1 memiliki fenotip
kacang ercis biji bulat warna kuning (100%). Setelah F1 disilangkan
dengan sesamanya menghasilkan keturunan F2 dengan rasio fenotip 9
(bulat kuning) : 3 (bulat hijau) : 3 (kisut kuning) : 1 (kisut hijau).
4.
Penyimpangan Semu Hukum Mendel
Pada persilangan
dihibrid pada keturunan ke-2 (F2) akan mempunyai perbandingan
fenotip = 9 : 3 : 3 : 1. Tetapi
dalam keadaan tertentu perbandingan fenotip tersebut tidak berlaku. Dari
beberapa percobaan, ternyata ada penyimpangan hukum Mendel. Hal itu dapat
terjadi karena adanya interaksi antargen, atau suatu gen dipengaruhi oleh gen
lain untuk memunculkan sifat tertentu sehingga menyebabkan perbandingan fenotip
yang keturunannya menyimpang dari hukum Mendel. Keadaan semacam ini disebut penyimpangan
hukum Mendel.
Jika gen yang berinteraksi dihibrid
yang menurut Mendel perbandingan fenotip F2 adalah 9 : 3 : 3 : 1
dapat menjadi 9 : 3 : 4 (kriptomeri), 9 : 7 (komplementer), 15 : 1 (polimeri)
atau 12 : 3 : 1. (epistasis dan hipostasis) dan interaksi gen 9
: 3 : 3 : 1 dengan sifat baru yang berbeda dengan kedua induknya.
5.
Pautan
Merupakan gen-gen yang terletak pada kromosom yang sama atau dalam
satu pasang kromosom homolog. Pautan antara dua macam gen atau lebih akan menghasilkan
keturunan dengan perbandingan genotip dan fenotip yang lebih sedikit bila
dibandingkan dengan gen-gen yang tidak berpautan. Hal ini disebabkan
gamet-gamet yang dihasilkan jumlahnya lebih sedikit.
6.
Pindah Silang (Crossing
Over)
Pindah silang diartikan sebagai peristiwa bertukarnya bagian kromosom satu dengan
kromosom lainnya yang homolog, atau bagian kromosom lainnya yang tidak homolog.
Peristiwa pindah silang
terjadi pada pembelahan meiosis profase I, subfase pakiten dan akan berakhir
pada metafase I.
Pindah silang akan
menghasilkan keturunan yang terdiri atas kombinasi parental (KP) dan rekombinan
(RK).
Nilai pindah silang adalah
angka yang menunjukkan persentase rekombinasi dari hasil-hasil persilangan.
Semakin jauh jarak antarkedua gen, semakin besar kemungkinan terjadinya pindah
silang. Nilai pindah silang (NPS) dapat dihitung dengan rumus:
Peta kromosom adalah suatu
gambar yang menyatakan jarak gen-gen yang terletak pada lokus yang
berderet-deret dalam suatu kromosom. Ukuran yang dipakai untuk menentukan jarak antargen antarlokus disebut unit.
Titik pengukuran jarak
antargen dimulai dari sentromer, jika gen a berjarak 12,5 unit, berarti gen A
berjarak 12,5 unit dari sentromer. Jika gen B berjarak 15,5 unit, berarti gen B
berjarak 15,5 unit dari sentromer. Berdasarkan informasi jarak gen A dan B dari
sentromer kita dapat menghitung jarak antara gen A dengan B, yaitu 15,5 – 12,5 = 3 unit.
7.
Penentuan Jenis Kelamin
Penentuan jenis kelamin pada
berbagai organisme tidak sama. Beberapa tipe penentuan jenis kelamin yang
dikenal adalah sebagai berikut.
a.
Sistem XX – XY
1)
Pada manusia: wanita 44 A + XX atau 22 AA + XX,
pria 44 A + XY atau 22 AA + XY
2)
pada Lalat buah: XX → betina (6 A + XX atau 3 AA + XX), XY → jantan (6 A + XY atau 3 AA + XY)
b.
Sistem XX – XO (pada belalang): XX → betina (22A + XX), XO → jantan (22A + XO).
c.
Sistem ZW – ZZ (pada kupu-kupu, ngengat, ikan,
burung): ZW → betina (78 A + ZW), ZZ → jantan (78 A + ZZ).
d.
Sistem ZO – ZZ (pada ayam, itik): ZO → betina (76A + ZO), ZZ → jantan (76A + ZZ).
8.
Pautan Seks
Merupakan
peristiwa tergabungnya beberapa sifat pada kromosom seks. Pautan seks dapat
terjadi pada kromosom X atau kromosom Y.
Contoh:
gen penentu warna mata pada lalat Drosophila
terpaut pada kromosom X.
9.
Gen Letal
Merupakan
gen yang dalam keadaan homozigot menyebabkan kematian pada individu yang
membawanya.
a.
Gen letal
dominan: jika gen dominan dalam keadaan homozigot menyebabkan kematian. Contoh:
1)
Thallasemia
(ThTh) pada manusia;
2)
Tikus bulu
kuning (KK);
3)
Ayam Redep
(RR);
4)
Ayam tidak
berjambul (JJ).
b.
Gen letal
resesif: jika gen resesif dalam keadaan homozigot menyebabkan kematian. Contoh:
1)
Sapi Bulldog
(dd);
2)
Sickle cell (ss) pada
manusia;
3)
Kelinci Pegler
(pp).
B.
Hereditas pada Manusia
1.
Golongan Darah
Golongan
darah bersifat menurun (genetis). Golongan darah pada manusia dapat
dikelompokkan menjadi 3 kelompok, yaitu:
a.
Sistem ABO
ditentukan oleh 3 macam alel, yaitu Ia, Ib, dan Io;
b.
Sistem
Rhesus, ditentukan oleh gen Rh untuk rhesus (+) dan gen rh untuk rhesus (-).
Alel Rh bersifat dominan terhadap alel rh;
c.
Sistem MN,
ditentukan oleh 2 macam alel, yaitu LM dan LN.
2.
Cacat dan Penyakit Menurun pada Manusia
Ciri-ciri penyakit
menurun:
a. tidak menular
pada orang lain;
b. tidak dapat
disembuhkan, karena ada kelainan dalam substansi hereditas (gen);
c. umumnya
dikendalikan oleh gen resesif dan hanya muncul pada seseorang yang homozigot
resesif.
Cacat dan penyakit menurun pada
manusia dapat diwariskan melaui autosom dan ada yang melalui kromosom seks
(terpaut seks).
a.
Terpaut Autosom
1)
Albino, disebabkan ketidakmampuan tubuh membentuk enzim pengubah tirosin
menjadi pigmen melanin yang dikendalikan oleh gen resesif a. Orang normal
memiliki genotip AA dan normal carier Aa. Seorang albino dapat lahir dari pasangan yang
keduanya carier.
2)
Polidaktili, merupakan kelainan bawaan dalam autosom yang dibawa oleh gen
dominan. Penderita dapat dilahirkan dari pasangan orang tua yang sama-sama
polidaktili heterozigot (Pp), atau dari pasangan yang salah satu polidaktili
(PP) dan yang lainnya normal (pp).
3)
Brakidaktili, merupakan
kelainan yang berupa memendeknya jari-jari akibat ruas-ruas jarinya pendek.
Kelainan ini dikendalikan oleh gen dominan (B) yang bersifat letal. Dengan
demikian, keadaan dominan homozigot (BB) akan menyebabkan kematian, genotip
heterozigot (Bb) akan menyebabkan brakidaktili, dan homozigot resesif (bb)
normal.
b.
Terpaut pada Kromosom Seks Manusia
1) Gen-gen abnormal terpaut kromosom Y
(Holadrik) antara lain:
a)
webbed toes, merupakan kelainan
sifat yang ditandai dengan pertumbuhan selaput diantara jari-jari, seperti
halnya kaki bebek atau kaki katak. Sifat tersebut dikendalikan oleh resesif
(wt) sedangkan gen dominan Wt
menentukan keadaan normal.
b)
hyserix gravior, merupakan kelainan yang ditandai dengan
pertumbuhan rambut yang kasar dan panjang, mirip duri landak. Sifat rambut ini
dikendalikan oleh gen resesif (hg). Gen Hg mengekspresikan pertumbuhan rambut
normal.
c)
hypertrikosis, merupakan kelainan yang ditandai dengan
pertumbuhan rambut yang berlebihan pada tubuh. Sifat ini dikendalikan oleh gen
resesif (ht). Gen H menyebabkan keadaan normal.
2)
Gen-gen
abnormal terpaut kromosom X antara lain:
a)
Hemofilia, penyakit genetik dimana darah sukar membeku pada saat terjadi luka.
Tubuh mengalami kegagalan dalam pembentukan enzim tromboplastin (enzim
pembeku darah) sehingga penderita akan sering mengalami pendarahan. Gen ini bersifat resesif yang terkandung
dalam kromosom X. Oleh karena itu, genotip penderitanya menjadi XhXh
(letal), dan XhY, sementara wanita carier adalah XHXh.
Wanita hemofilia hanya ada secara teori, sebab akan mati pada saat embrio.
b)
Buta Warna (Colour Blind), kelainan
pada retina mata seseorang, yaitu pada sel kerucutnya tidak peka terhadap
cahaya yang berwarna. Jika buta warna dibawa oleh gen resesif cb yang terpaut
pada kromosom X, maka penderitanya adalah XcbXcb dan XcbY,
sementara XCBXcb adalah wanita carier.
c)
Anenamel (Gigi Tak Beremail), kelainan ini
dibawa oleh gen yang bersifat dominan pada kromosom X. Gen g menentukan gigi
normal, sementara gen G anenamel. Ciri-cirinya antara lain gigi kekurangan
lapisan email sehingga giginya berwarna coklat dan lebih cepat rusak. Penderita
bergenotip XGY, XGXG, dan XGXg.
sementara genotip normalnya adalah XgY dan XgXg.
d)
Anodontia, kelainan yang dibawa oleh kromosom X
dan muncul dalam keadaan resesif. Ciri-cirinya antara lain tidak memiliki gigi sehingga tampak ompong.
Kelainan ini lebih sering dijumpai pada pria sebab seorang pria yang mengandung
satu gen a (gen anodontia) sudah menampakkan gejalanya (XaY),
sementara pada wanita baru menampakkan sebagai penderita jika genotipnya XaXa.
POLA-POLA HEREDITAS
Pola-pola hereditas
pertama diungkapkan oleh Gregor Johann Mendel (1858 – 1866) seorang
tabib di Brumn, Austria. Dari hasil penemuan Mendel tentang hereditas
atau penurunan sifat tersebut sehingga dia disebut sebagai Bapak
Genetika. Adanya sifat-sifat yang diwariskan dari orang tua (induk)
kepada keturunannya sudah lama diketahui.
1. Hukum I Mendel
Mendel diakui sebagai Bapak Genetika
karena dianggap sebagai penemu prinsip dasar penurunan sifat (hereditas)
yang sering dikenal dengan hukum Mendel. Dalam percobaannya, Mendel
menanam tanaman kacang ercis (Pisum sativum) dan memeriksa
keturunan-keturunannya. Keputusan Mendel untuk menggunakan kacang ercis
(Pisum sativum) sebagai bahan percobaannya sangat tepat, karena tanaman
ini kuat dan tumbuh dengan cepat. Daun bunga seluruhnya menutupi
organ-organ seksnya sehingga serangga jarang dapat masuk ke dalam
organ-organ seksnya dan akan terjadi penyerbukan sendiri. Agar dapat
terjadi penyerbukan silang, Mendel membuka kuncup-kuncupnya dan membuang
benang sari sebelum masak, kemudian menyapu-nyapukan serbuk sari dari
tanaman lain pada putik.
Keuntungan yang lain adalah kacang ercis
ini banyak menghasilkan keturunan varietas yang berlainan secara nyata.
Di antara varietas kacang ercis memiliki pasangan sifat beda yang
menonjol.
P digunakan untuk sebutan induk, simbol
parental, F (Filius) untuk sebutan keturunan, misalnya F1 berarti
keturunan pertama, F2 berarti keturunan kedua, yang artinya keturunan
dari hasil persilangan antar-F1 dan seterusnya.
a. Persilangan Monohibrid
Sebelum melakukan percobaannya, tanaman
kacang ercis (Pisum sativum) melakukan penyerbukan sendiri sehingga
mendapatkan varietes galur murni. Setelah mendapatkannya, maka Mendel
baru melakukan percobaannya dengan satu sifat beda untuk setiap
persilangannya. Misalnya, mempersilangkan antara kacang ercis berbiji
bulat dengan berbiji keriput. Hasil persilangannya menghasilkan
keturunan kacang ercis berbiji bulat, dan hasilnya terlihat muncul satu
sifat beda kemudian seterusnya dilakukannya lagi persilangan dengan
sifat beda lainnya dan menghasilkan 7 macam sifat beda. Dari hasil
pengamatannya pada keturunan pertama (F1) menunjukkan ciri-ciri yang
sama dengan salah satu induknya.
Hasil Percobaan Mendel dari Persilangan dengan Satu Sifat Beda
Setelah mendapatkan hasil seperti pada
tabel di atas, kemudian Mendel mengulang percobaannya dengan
menyilangkan keturunan pertama (F1) yang dijadikan sebagai induk (P2),
ternyata menghasilkan keturunan F2 yang beraneka ragam. Dari hasil
pengamatannya, sifat resesif yang tidak muncul pada keturunan F1 akan
muncul di keturunan F2.
Mendel beranggapan sifat resesif muncul
karena sifat beda yang dimiliki induknya adalah berpasangan. Jadi, dalam
persilangannya masing-masing induknya akan memberikan satu fakta sifat
beda kepada keturunannya sehingga akan menerima 2 fakta sifat beda dari
masing-masing induknya.
Untuk mempermudahnya dapat pula digunakan tabel, perhatikan!
Dari diagram dan tabel dapat kita lihat perbandingan fenotipe dari F2 adalah = 3 : 1 = bulat : keriput.
Sedangkan untuk perbandingan genotipenya F2 dapat kita lihat adalah 1 : 2 : 1 = BB : Bb : bb
Dengan demikian gen faktor bulat (B)
adalah dominan terhadap faktor keriput (b) dan Bb adalah individu yang
mempunyai fenotipe biji bulat. Mendel melakukan percobaannya berulang
kali, ternyata hasilnya sama seperti dapat dilihat tabel berikut ini.
Dari data tersebut dapat dilihat perbandingan rata-rata sifat dominan : resesif pada F2 adalah 3 : 1.
Berdasarkan hasil percobaan yang
dilakukan Mendel dengan fakta-fakta yang ada, maka muncullah Hukum I
Mendel /Hukum Segregasi yang berbunyi : “Pada peristiwa pembentukan
gamet, gen yang merupakan pasangannya memisah secara bebas”. Setiap sel
gamet akan memperoleh satu gen dari pasangan tersebut. Kemudian Mendel
membuat suatu kesimpulan seperti berikut.
- Setiap sifat suatu organisme dikendalikan oleh satu pasang faktor keturunan yang dinamakan gen (pada waktu itu Mendel belum mengenal gen); yaitu satu faktor dari induk jantan dan satu faktor dari induk betina.
- Setiap pasangan faktor keturunan menunjukkan bentuk alternatif sesamanya, misalnya bulat atau kisut. Kedua bentuk alternatif ini disebut alel.
- Apabila pasangan faktor keturunan terdapat bersama-sama dalam satu tanaman, faktor dominan akan menutup faktor resesif.
- Pada saat pembentukan gamet, yaitu pada proses meiosis, pasangan faktor atau masing-masing alel akan memisah secara bebas.
- Individu galur murni mempunyai pasangan sifat (alel) yang sama, yaitu dominan atau resesif saja.
Selain tumbuhan, sifat dominan dan
resesif juga terjadi pada manusia, seperti yang dimiliki dalam keluarga
Anda. Dalam satu keluarga akan tampak sifat-sifat dominan dan
sifat-sifat yang dapat tampak atau tidak tampak (resesif).
b. Sifat Intermediet
Mendel tidak hanya berhenti melakukan
satu percobaan, tetapi selalu mengadakan percobaan-percobaan. Ketika
mencoba menyilangkan bunga pukul empat (Mirabilis jalapa) merah dan
putih menghasilkan keturunan F1 merah muda. Setelah dilakukan
persilangan sesama F1 ternyata menghasilkan keturunan F2 yaitu merah,
merah muda, dan putih dengan perbandingan 1 : 2 : 1.
Dari hasil percobaan tampak dihasilkan
keturunan dengan perpaduan sifat dari kedua induknya yaitu merah muda,
warna ini disebut dengan sifat intermediet. Warna tersebut terjadi
karena dominasi yang tidak sempurna dari warna merah tetapi masih
menampakkan tanda warna merah dominan terhadap warna putih.
Dari diagram dan tabel dapat dilihat
perbandingan fenotipe dan F2 adalah 1 : 2 : 1 = merah : merah muda:
putih, sedangkan perbandingan genotipenya F2 dapat dilihat 1 : 2 : 1 =
MM : Mm : mm
c. Genotipe Dan Fenotipe
Mendel juga mengemukakan bahwa pada
sifat yang dominan-dominan atau dominan-resesif akan muncul sifat yang
fenotipe dominan, hanya individu yang mempunyai sifat resesif-resesif
akan muncul fenotipe resesif. Seperti yang telah Anda pelajari di bagian
depan bahwa genotipe BB dan Bb menunjukkan fenotipe bulat, sedangkan
genotipe bb akan menunjukkan fenotipe keriput. Jadi, apakah yang
dimaksud dengan genotipe dan fenotipe?
Genotipe merupakan sifat yang ditentukan
oleh gen, dapat dikatakan sebagai sifat yang menurun dan diwariskan
kepada keturunannya. Pengaruh genotipe ini bergantung pada
lingkungannya.
Fenotipe merupakan paduan antara
genotipe dengan lingkungannya, jadi sifat yang tampak dari luar. Coba
Anda pikirkan, seseorang mempunyai bakat menjadi penari, apakah bakat
tersebut akan menampakkan hasilnya jika tidak pernah diberi pelajaran
menari?
Pelajaran menari dan les menari
merupakan suatu lingkungan. Dari contoh tersebut dapat kita amati bahwa
anak yang berbakat menari adalah genotipe, kemudian diberikan les menari
merupakan lingkungan maka akan menampakkan keterampilan menari
(fenotipe).
2. Hukum II Mendel (Persilangan Dihibrid)
Pada saat periode yang sama Mendel
menyelidiki pewarisan, ia juga menyilangkan tanaman ercis yang berbeda
dalam dua sifat, persilangan ini dinamakan persilangan dihibrid. Mendel
menyilangkan varietas ercis berbiji bulat berwarna kuning dengan
varietes ercis berbiji keriput berwarna hijau.
Keturunan pertama (F1) menghasilkan
keturunan berbiji bulat warna kuning. Kemudian Mendel menyilangkan
antara F1 yang menghasilkan keturunan F2 sebagai berikut :
315 varietas ercis berbiji bulat kuning
101 varietas ercis berbiji keriput kuning
108 varietas ercis berbiji bulat hijau
32 varietas ercis berbiji keriput hijau
101 varietas ercis berbiji keriput kuning
108 varietas ercis berbiji bulat hijau
32 varietas ercis berbiji keriput hijau
Jika kita amati perbandingan antara
tanaman tersebut yaitu perbandingan antara tanaman bulat kuning :
keriput kuning : bulat hijau: keriput hijau = 9 : 3 : 3 : 1. Untuk lebih
jelasnya lihat dan amati diagram berikut ini.
Coba Anda perhatikan hasilnya
- Pada nomor : 1, 2, 3, 4, 5, 7, 9, 10, 13 dihasilkan tanaman varietas ercis berbiji bulat kuning yang jumlahnya ada 9.
- Pada nomor : 6, 8, 14 dihasilkan tanaman varietas ercis berbiji bulat hijau yang berjumlah 3.
- Pada nomor : 11, 12, 15 dihasilkan tanaman varietas ercis keriput kuning yang berjumlah 3.
- Pada nomor : 16 dihasilkan tanaman varietas ercis berbiji keriput hijau yang berjumlah 1.
Sehingga perbandingannya menghasilkan bulat kuning : bulat hijau : keriput kuning : keriput hijau = 9 : 3 : 3 : 1.
Coba Anda perhatikan pada kotak nomor 1,
6, 11, dan 16! Kotak-kotak itu merupakan tanaman homozigot, yaitu BBKK,
BBkk, bbKK, dan bbkk, dan untuk kotak nomor yang lain adalah
heterozigot, coba Anda sebutkan!
Perhatikan kotak nomor 6, yaitu
varietas ercis berbiji bulat hijau dengan nomor 11 yaitu varietas ercis
berbiji keriput kuning. Kedua individu tersebut mempunyai genotipe yang
tidak dimiliki oleh kedua induknya, sehingga individu tersebut disebut
sebagai individu baru (bastar konstan). Individu
tersebut memiliki genotipe yang homozigot dan sifat itu muncul akibat perpaduan sifat kedua induknya.
tersebut memiliki genotipe yang homozigot dan sifat itu muncul akibat perpaduan sifat kedua induknya.
Jika diperhatikan dan diamati, gen yang
telah terpisah tersebut akan bergabung dengan gen dari induk lain pada
saat perkawinan. Penggabungan tersebut terjadi secara acak dan bebas.
Pada perkawinan ini tampak jelas bahwa gen-gen dapat berpasangan
membentuk kombinasi yang beragam. Maka hal tersebut dikenal dengan Hukum
II Mendel atau Hukum Pengelompokan Gen Secara Bebas (The Law
Independent Assortment of Genes). Hal tersebut dituangkan dalam Hukum II
Mendel yang berbunyi “Bila individu berbeda satu dengan yang lain dalam
dua pasang sifat atau lebih, maka akan diturunkan sifat yang sepasang
tak tergantung dari pasangan sifat yang lain”.
3. Persilangan Dengan Lebih Dari Dua Sifat Beda
Jika kita perhatikan, kemungkinan
genotipe dan fenotipe pada F2 dalam persilangan monohibrid gamet yang
terbentuk pada F1 ada 2 macam dan fenotipenya ada 2 macam dengan
perbandingan 3 : 1. Pada perbandingan dihibrida gamet yang terbentuk
pada F1 sebanyak 4 macam dan fenotipe sebanyak 4 macam dengan
perbandingan 9 : 3 : 3 : 1. Jika kita melakukan persilangan dengan tiga
sifat beda (trihibrid), misalnya AABBCC disilangkan dengan individu
tersebut yang bergenotipe aabbcc maka F1 nya adalah AaBbCc. P2 akan
menghasilkan gamet sebanyak 8 macam yaitu ABC, ABc, AbC, Abc, aBC, aBc,
abC, dan abc. Dengan demikian F2 akan menghasilkan sebanyak 64 keturunan
atau 82. Bagaimana dengan persilangan trihibrida dan
seterusnya? Untuk menentukannya dapat menggunakan metode segitiga
Pascal, lihat tabel hubungan antara jumlah sifat beda dengan banyaknya
macam gamet F1 dan perbandingan F2 berikut.
4. Persilangan Resiprok, Backcross, dan Testcross
Selain persilangan monohibrid dan dihibrid, dikenal juga persilangan resiprok, backcross, dan testcross.
a. Persilangan Resiprok
Apa yang dimaksud dengan persilangan
resiprok? Persilangan resiprok mempunyai pengertian bahwa dalam suatu
persilangan berlaku sama pada jenis kelamin jantan dan betina, yang
berarti baik jantan maupun betina mendapatkan kesempatan sama dalam
pewarisan sifat. Misalnya, persilangan antara bunga kuning dan bunga
merah akan menghasilkan keturunan yang sama meskipun serbuk sari diambil
dari bunga kuning atau merah.
b. Persilangan Backross
Apabila Anda mengawinkan F1 dengan salah
satu induknya, baik dari induk homozigot dominan maupun resesif, maka
persilangan ini disebut dengan backcross. Tujuan mengadakan perkawinan
ini adalah untuk mengetahui genotipe induknya. Agar lebih jelas
perhatikan contoh di bawah ini.
c. Persilangan Testcross
Apabila Anda mengawinkan F1 (keturunan
pertama) dengan induk yang homozigot resesif, persilangan ini disebut
sebagai persilangan testcross. Testcross bertujuan untuk mengetahui
jenis individu yang diuji, tergolong homozigot atau heterozigot. Jika
hasil persilangan ini mempunyai hasil perbandingan fenotipe keturunan
memisah, maka individu yang diuji adalah heterozigot, tetapi jika uji
silangnya 100% berfenotipe sama maka individu yang diuji adalah
homozigot.
PEMBELAHAN SEL
Sel merupakan unit terkecil dalam tubuh kita yang masih memiliki fungsi dan sifat yang sama seperti organ-organ. Mengapa demikian? Sel berdeferensiasi, menjadi sel-sel bersifat tertentu dan khusus, untuk membentuk suatu jaringan, yang kemudian akan menjadi organ. Pembelahan sel ini dialami oleh semua makhluk hidup, baik monera, protista, fungi, tumbuhan, dan hewan, serta manusia.
Pembelahan sel dibagi menjadi tiga (3) golongan, yaitu Amitosis, Mitosis dan Meiosis. Berikut ini merupakan penjelasan dari masing-masing golongan:

I. AMITOSIS
Amitosis atau pembelahan biner adalah reproduksi sel di mana sel membelah diri secara langsung tanpa melalui tahap-tahap yang kompleks. Dalam pembelahan amitosis, sel membelah begitu saja atau bersifat spontan. Pembelahan ini terjadi pada prokariotik (tidak memiliki membran inti sel), berukuran relatif kecil, dan berbentuk sirkuler seperti bakteri dan ganggang hijau-biru (euglenophyta).
Berikut itu merupakan tahap-tahap pembelahannya:
1. Kromosom bakteri menempel pada membran plasma
2. Bagian DNA yang menempel mengalami replikasi selama sel tumbuh, hingga seluruh replikasi DNA selesai
3. Sel mulai membelah
4. Terbentuk dua sel anakan
II. MITOSIS
Mitosis adalah cara reproduksi sel di mana sel membelah melalui tahap-tahap yang teratur. Mitosis pada akhirnya akan menghasilkan dua (2) sel anakan yang diploid (2n) dan identik. Pembelahan ini terjadi selama masa pertumbuhan sel tubuh (somatik) dan reproduksi aseksual. Pada tumbuhan berbunga, bagian yang paling aktif membelah adalah di ujung akar dan tunas batang, yaitu daerah meristematik. Pada hewan dan manusia, pembelahan ini terjadi pada sel meristem somatik (muda). Sel memiliki siklus yang terdiri dari periode pertumbuhan atau interfase, dan fase pembelahan atau mitotik.
Berikut merupakan tahap-tahap pembelahan mitosis:
1. Fase istirahat (interfase) adalah masa ketika DNA di kopi menjadi 2 salinan
• Fase gap-1, pada masa ini belum terjadi replikasi DNA
• Fase sintesis, pada masa ini terjadi replikasi (dari 1 copy menjadi 2 copy)
• Fase gap-2, pada masa ini replikasi telah selesai
• Profase awal : Pada hewan, sentriol membelah dan bergerak ke kutub berlawanan pada nukleus. Setelah itu terbentuk benang-benang spindel yang terhubung dari kutub satu ke kutub lainnya. Pada tumbuhan, benang spindel tidak terikat pada sentriol.
• Profase akhir : Kromosom terlihat terdiri dari 2 kromatid yang terikat pada sentromer. Nukleolus hilang, membran inti hancur.
• Metafase : Fase ini singkat. Kromosom terikat pada benang spindel di sentromernya. Lalu kromosom bergerak ke bidang ekuator agar informasi DNA rata.
• Anafase : Fase ini juga termasuk singkat. Sentromer (bagian tengah kromosom, tempat pekukan dan pelekatan lengan kromatid) membelah. Kromatid bergerak ke kutub pembelahan. Ini terjadi karena kontraksi benang spindel (memendek, menarik kromatid jadi 2). Pada akhir fase, akan menghasilkan salinan kromosom berpasangan
• Telofase : Kromatid telah disebut kromosom. Membran inti mulai terbentuk dan nukleolus muncul. Kromosom membentuk benang kromatin. Akhirnya, terjadi sitokinesis.
3. Sitokinesis (pembelahan sitoplasma)
Pada hewan :
i. Penguraian benang spindel
ii. Pembentukan cincin mikrofilamen di bekas bidang ekuator
iii. Terjadi kontraksi ke arah dalam (cincin jadi erat) yang membagi sel menjadi 2
iv. Terbentuk 2 sel anakan
Pada tumbuhan:
i. Vesikel mengumpul di ekuator benang spindel (berasal dari badan Golgi)
ii. Terjadi fusi partikel
iii. Terbentuk sekat sel
iv. Terbentuk 2 sel anakan
III. MEIOSIS
Meiosis adalah cara reproduksi yang mengalami 2 kali pembelahan yaitu meiosis I dan II. Antara meiosis I dan II ada tahap antara yang disebut interkinesis. Berikut merupakan tahap-tahap pembelahan meiosis:
1. Meiosis I
• Interfase : persiapan untuk pembelahan, terjadi replikasi DNA
• Profase I : DNA dikemas ke dalam kromosom. Pada akhir profase I, terbentuk kromosom homolog (sepasang kromosom yang terdiri dari 2 kromosom identik) yang berpasangan membentuk tetrad. Terdiri dari 5 tahap, yaitu:
i. Leptoten : kromatin berubah jadi kromosom.
ii. Zigoten : sentrosom membelah menjadi 2. Bergerak menuju kutub yang berlawanan. Kromosom dari ke-2 nya lalu berpasangan (sinapsis).
iii. Pakiten : Tiap kromosom bereplikasi jadi 2 kromatid (sentromer tetap menyatu). Kromosom berpasangan mengandung 4 kromatid yang disebaut tetrad.
iv. Diploten : Kromosom homolog saling menjauhi. Saat menjauh terjadi perlekatan berbentuk ‘X’ pada suatu tempat di kromosom (Kiasma). Kiasma adalah bentuk persilangan dua dari 4 kromosom dengna pasangan kromosom homolognya, juga merupakan tempat terjadinya peristiwa pindah silang.
v. Diakinesis : Terbentuk benang-benang spindel dari pergerakan 2 sentriol ke kutub berlawanan. Nukleolus dan membran nukleus hancur. Tetrad bergerak ke bidang ekuator.
• Metafase I : Tetrad kromosom berada pada bidang ekuator. Benang-benang spindel melekatkan diri pada tiap sentromer kromosom. Ujung lainnya melekat di kutub pembelahan yang berlawanan.
• Anafase I : Tiap kromosom homolog mulai ditarik oleh benang spindel menuju kutub. Fase ini dilakukan agar diploid menjadi haploid.
• Telofase I : Tiap kromosom telah mencapai kutub.
• Sitokinesis I : Tiap kromosom homoloh dipisahkan oleh sekat. Menghasilkan 2 sel, masing-masing dengan 2 kromatid kembar.
Bila pada pembelahan sel, tahap berakhir sampai sitokinesis, sel-sel yang melakukan pembelahan meiosis masih terus mengalami pembelahan, yaitu seperti berikut:
2. Meiosis II
• Profase II : kromatid kembaran masih melekat pada tiap sentromer kromosom.
• Metafase II : Tiap kromosom (2 kromatid) merentang di ekuator. Terbentuk benang-benang spindel.
• Anafase II : Benang spindel mulai menarik kromatid. 2 kromatid menuju ujung yang berbeda. Yang telah terpisah ini disebut kromosom.
• Telofase II : Telah mencapai kutub. Terbentuk 4 inti, masing-masing haploid dan hanya memiliki satu salinan DNA.
• Sitokinesis II : Tiap inti mulai dipisahkan oleh sekat sel, terakhir jadi 4 sel kembar haploid
Langganan:
Postingan (Atom)

